Jangan di skip atau di lewatkan informasi di akhir artikel ini!
Membangun struktur bisnis yang berkelanjutan merupakan tantangan fundamental bagi setiap pebisnis/ owner. Keberhasilan sebuah bisnis sangat bergantung pada siapa yang memimpi bisnis itu dan sudah memiliki dua fungsi organisasi inti ini atau belum. Kedua hal itu adalah
Pemasaran (Marketing/Sales) sebagai penggerak pendapatan atau yang mendatangkan uang, dan
Keuangan sebagai sistem pertahanan yang menjaga, mengalokasikan dan memprediksikan karena data penting untuk mengambil kebijakan ada disini.
Pemasaran bukan sekadar aktivitas pendukung, melainkan jantung dari eksistensi bisnis. Peter Drucker, yang dikenal sebagai Bapak Manajemen Modern, menegaskan bahwa "Karena tujuan dari bisnis adalah menciptakan pelanggan, maka perusahaan bisnis hanya memiliki dua fungsi dasar: Pemasaran dan Inovasi. Pemasaran dan Inovasilah yang menghasilkan pendapatan; sisanya adalah biaya." Strategi pemasaran yang efektif memastikan adanya Customer Acquisition yang berkelanjutan untuk menjaga stabilitas arus kas masuk. Maka ketika sistem penawaran bagi seorang marketing atau sales akan sangat berbeda, kemampuan dan database juga akan memiliki nilai tawar yang berbeda. Jika struktur gaji tidak tepat maka yang terjadi anda salah memahami marketing dan juga fungsi sales.
Namun, pertumbuhan pendapatan (omzet) tanpa pengelolaan keuangan yang rigid atau terdata dengan baik adalah sebuah kerentanan. Kemampuan manajemen keuangan berfungsi sebagai sistem pengendalian internal untuk mencegah terjadinya efisiensi yang rendah atau "kebocoran" modal. Data dari CB Insights dalam laporan "The Top 12 Reasons Startups Fail" mengungkapkan bahwa sekitar 38% kegagalan bisnis disebabkan oleh kehabisan modal (ran out of cash/failed to raise new capital), yang seringkali berakar pada pengelolaan arus kas yang buruk meskipun produk mereka memiliki potensi pasar.
Bekerjasama dengan mitra bisnis, pemilik modal, klien atau business owner yang memiliki pemahaman mendalam mengenai biaya khususnya dalam konteks marketing budgeting, merupakan kebutuhan utama dalam keberhasilan eksekusi strategi. Literasi keuangan dalam pemasaran memungkinkan terjadinya strategic alignment (keselarasan strategis), di mana setiap alokasi dana dipandang sebagai instrumen pencapaian target spesifik yaitu omset. Namun, hambatan signifikan sering muncul ketika pengambil keputusan gagal mendiferensiasi antara pengeluaran untuk Sales/Performance Marketing anggaran di 40% (bersifat jangka pendek dan transaksional) dengan investasi pada Brand Equity anggaran di 60% (pembangunan nilai jangka panjang) penting untuk memperhatikan kondisinya.
Tantangan ini menjadi jauh lebih kompleks bagi entitas bisnis yang belum memiliki penetrasi pasar atau kesadaran merek (brand awareness) yang kuat. Meskipun strategi pertumbuhan organik merupakan pendekatan yang minim risiko secara finansial, metode ini seringkali tidak efisien secara temporal; pertumbuhan yang lambat di tengah biaya operasional (fixed costs) yang terus berjalan dapat menggerus margin keuntungan secara perlahan. Dalam kondisi kompetisi yang ketat, strategi Blitzscaling atau penetrasi pasar yang agresif yang seringkali di sebut konsep bakar uang menjadi pilihan rasional. Strategi ini melibatkan alokasi modal yang masif atau yang sering diistilahkan dengan burn rate strategy untuk mengakuisisi pangsa pasar secara cepat melalui berbagai instrumen pemasaran digital dan promosi intensif. Tujuannya adalah mencapai economies of scale sebelum sumber daya operasional habis terkonsumsi oleh waktu. Dalam era saat ini, kita biasa menemukannya pada brand brand start up seperti Go jek dan brand lain yang mulai dari skala kecil ingin menjadi besar melalui pasar modal atau dukung investor dalam kasus franchise atau waralaba.
Setelah pembahasan di atas saya akan memberikan contoh Brand yang perna di handle sebelumnya.
Business owner dari CV. Pajera Media Sejahtera merekrut brand manager untuk mewakili brand Ayam Panggang Mbah Mo. CV. Pajera Media Sejahtera memiliki banyak
unit bisnis yang di bawahi oleh holding company miliknya. Dalam kasus ini, mereka
punya unit bisnis kuliner yang belum maksimal di luar dari holding secara langsung dan penjualannya selama 3
tahun berdiri hanya rata rata omset 100+ juta perbulan. Tindakan yang CV. Pajera Media Sejahtera sudah lakukan adalah di handle dengan startegi marketing pada
umumnya melalui team marketing dari unit bisnis sendiri berupa agensi digital marketing. Metode selama 3
tahun juga sangat maksimal, mereka melakukan perawatan pada sosisal media dan
juga sampai mengundang influencer yang merupakan artis besar ibu kota Benu pada tahun 2019. Kumpulan data lainnya adalah lokasi strategis karena dekat dengan brand yang viral yaitu Kopi Klothok, bangunan yang luas, lokasi pariwisata, produk unik dan belum perna viral.
Dalam manajemen strategi, mengalokasikan anggaran untuk membangun fondasi brand yang solid sejak awal dengan strategi yang tepat jauh lebih efisien secara finansial dibandingkan melakukan 'operasi plastik' pada brand yang sudah memiliki citra buruk. Hal ini didukung oleh fenomena Service Recovery Paradox (melalui Investopedia), di mana biaya untuk memenangkan kembali kepercayaan konsumen seringkali melonjak drastis karena adanya resistensi psikologis.
Secara ilmiah, hal ini berkaitan dengan Confirmation Bias (seperti yang dijelaskan dalam Britannica); sekali publik memiliki persepsi negatif, mereka akan cenderung mengabaikan upaya perbaikan Anda. Sebagaimana dicatat dalam studi klasik Harvard Business Review mengenai The High Cost of Lost Trust, investasi pada brand awareness yang sehat sejak dini adalah aset jangka panjang, sedangkan biaya pemulihan reputasi hanyalah beban (expense) besar yang seharusnya bisa dimitigasi melalui perencanaan strategi yang presisi."
Dalam kasus ini, kita melihat anggaran yang besar di alokasikan pada strategi atau cara yang tidak tepat maka tidak akan mencapai target yang di harapkan. Dari kepercayaan magic yang terjadi di Indonesia, hal yang cukup menjadi tantangan saat menghandle brand ini adalah ketika seorang business owner percaya bahwa tempatnya sepi mungkin karena ada sihir. Suatu magic yang menutupi restorannya sehingga orang orang tidak melihat dan tidak mampir ketempatnya tapi tidak mempertimbangkan layout dan design yang salah.
Dengan menyelaraskan data yang masuk dan target market yang di bentuk sebelumnya, maka dalam proses sebelum bergabung dengan perusahaan kita menyepakati dulu hal terpenting yaitu anggaran dan strategi yang akan di lakukan. Perluh di pahami bersama, bahwa setiap tools atau media marketing itu banyak serta sangat umum untuk di gunakan. Sedangkan setiap tools ada biaya yang harus di keluarkan, namun yang mahal dari semua itu adalah proses dan strategi penggunaan tools tersebut.
Dari pengalaman sebelumnya menghandel brand ini dengan teamnya, owner CV. Pajera Media Sejahtera sangat paham biaya yang digunakan sehingga pengajuan anggaran yang sangat besar kali ini owner lebih fokus strategi yang dilakukan. Ketika membaca anggaran yang di ajukan owner memahami tools yang terdapat dalam RAB tidak berjauh beda tapi diskusi kali ini dilakukan fokus pada strategi dan penganggaran biayanya dalam setiap tools serta tahapan yang dilakukan.
Saya akan berbagi strategi dalam menaikan omset 100 juta perbulan menjadi 500 juta perbulan lalu menjadi brand waralaba.
Berdasarkan evaluasi mendalam, ditemukan adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara profil target pasar sebelumnya dengan atribut fisik aset perusahaan sebelumnya.
Dari analisis tersebut maka ada beberapa tahapan yang di lakukan yang bisa saya bagi :
Stage 1 : Persiapan dalam mengganti segmen pasar
beberapa hal yang di lakukan adalah riset value brand untuk konten,
menaikan beberapa value dalam konten dengan ads dan mengavaluasi value
tersebut, membangun menu baru untuk segmen pariwisata, bekerjasama
dengan freelance sales dan ikut komunitas untuk mengumpulkan database
dan promo branding secara offline pada agensi tour, pemerintah dan
perusahaan. Setelah ada beberapa reservasi dan pelanggan yang datang
maka mengumpulkan bank konten dari pelanggan yang datang dengan angel
yang beragam.
Stage 2 : Menguji media pemasaran dan form evaluasi
beberapa hal yang dilakukan adalah membangun sistem evaluasi marketing
dengan form quisioner di kasir dan laporan digital marketing. Menaikan
konten value yang dipilih dengan ads meta, memasang ronteg di jalan dan
cashback pada database sales. Lalu semua itu di evaluasi oleh laporan
harian dan mingguan oleh kasir dan digital marketing.
Stage 3 : Blitzscaling atau burn rate strategy (bakar uang)
beberapa hal yang dilakukan setelah mulai ramai penjualan melalui tour
& travel dan lainnya maka menaikan branding melalui influencer.
Kegiatan ini dilakukan di awal bulan dan akhir bulan dengan mengincar 2
moment penting yaitu moment wisuda dengan paket wisudanya dan branding
tanpa promo dengan moment natarunya.
Stage 4 : Costumer relationship dan pengembangan
Beberapa hal yang dilakukan adalah memperbaiki layout terkait issue
selama ini ramai karena ada black magic sehingga tidak ada yang datang.
Membangun kerjasama dengan umkm lain untuk oleh oleh, membuat paket
besek dan pelayanannya, memperbanyak agenda branding image di maps dan
sosmed.
Dengan support team dan juga finansial yang baik, beberapa pencapai yang di buat dalam program 3 bulan menghandle brand Ayam Panggang Mbah Mo, yaitu :
1. Meningkatkan trend online di Sosial Media atau pun Google Maps dengan membangun follower dari 3K+ naik 2 kali lipat dan membangun trend pada Gmaps sampai rate bintang 4.8 dengan ribuan komentar positif di sosmed atau pun gmaps.
2. Omset selama 3 tahun belakangan di rata-rata 100+ juta perbulan menjadi 600+ juta perbulan.
3. Dalam kondisi viral ini, kolega dan calon investor masuk menghubungi menjadi dapat base untuk program serta target baru yaitu bisnis waralaba franchise.
Beberapa hal yang perlu di pahami dan sepakati ketika membaca artikel ini adalah :
1. Dari formula yang saya share dan hasil dari pencampaiannya saat itu, perlu saya sampaikan bahwa tools atau media marketing daftarnya selalu sama. Hal yang membedakan dan membuat tools itu berguna dengan baik adalah kemampuan manager anda atau pengalaman anda untuk tahu kapan, apa dan berapa jumlah rupiah yang harus dikelurkan.
2. Formula marketing ini dilakukan di tahun 2022 sampai saat ini beberapa brand yang perna interview dan konsultasi dengan saya mencoba menerapkan beberapa tools. Tools yang di gunakan kadang salah satu atau semuanya dan hasilnya selalu beragam yang memberikan data bahwa semua itu tergantung yang menggunakan tools dan rupiah yang dikeluarkan.
3. Agenda marketing biasanya dilakukan lebih banyak secara intuisi dari proses pengalaman. Seperti kata Gary Klein dalam bukunya "Sources of Power: How People Make Decisions", ia menjelaskan bahwa para ahli (termasuk marketer berpengalaman) tidak membandingkan semua opsi secara analitis, melainkan menggunakan intuisi untuk mengenali pola.
4. Sebagai pebisnis atau atasan, anda harus dapat belajar dua kemampuan seperti diatas yaitu marketing atau sales dan juga keuangan. Ketika anda memutuskan menggunakan atau menghire orang lain untuk melakukan kedua hal itu maka siapkan diri anda untuk bertanggungjawab atas setiap keputusan anda.