You can explore all the menus or scroll to the bottom to learn about my career journey and the projects I’ve worked on. “Take action, because one move can make a difference. Whatever the outcome—good or bad—you are the one who must take responsibility.”

Ladang Basah Money Laundry di UMKM terutama Food and Beverage

Sembilan tahun berkecimpung di industri Food and Beverage (F&B) serta latar belakang pendidikan Ekonomi dan Bisnis di Management telah membawa saya ke banyak meja diskusi. Mulai dari teman-teman kuliah, rekan kerja, pemilik bisnis, hingga investor. Namun, satu topik yang selalu memicu tanya dan perdebatan panjang adalah tentang 'eksistensi yang janggal. Sebuah pertanyaan, "bagaimana sebuah gerai kuliner yang secara kasatmata sepi pengunjung dan minim transaksi mampu bertahan, bahkan terus beroperasi selama bertahun-tahun?". Realita ini sering kali menjadi garis tipis yang memisahkan antara strategi manajemen yang murni dengan praktik perputaran uang ilegal atau money laundry. Di balik tumpukan struk UMKM kuliner, tersimpan celah strategis yang menjadikannya instrumen ideal bagi praktik money laundering.

Salah satu contoh bisnis F&B seperti menjamurnya gerai coffee shop yang tampak sepi namun memiliki aset mewah di kota-kota besar Pulau Jawa bukan sekadar anomali pasar. Hal ini melainkan sebuah risiko sistemik bagi strategi pencucian uang dalam bisnis UMKM. Mengacu pada laporan PPATK 2026, sektor penyedia barang dan jasa menyumbang angka laporan transaksi mencurigakan yang sangat masif. Pakar ekonomi memperingatkan bahwa fenomena ini menciptakan unfair competition, di mana bisnis yang beroperasi sebagai instrumen pencucian uang tidak lagi mengejar profitabilitas retail melainkan validitas angka di atas kertas. Sebuah praktik yang menurut standar FATF harus diawasi ketat melalui pendekatan berbasis risiko (Risk-Based Supervision).

Jika secara terang-teranga  menggunakan teori Economic Distortion yaitu praktik merusak kompetisi yang sudah ada karena bisnis "pencuci uang" tidak peduli pada harga pasar atau biaya operasional yang tinggi, sehingga mematikan UMKM jujur di sekitarnya. Beberapa praktik atau strategi yang digunakan untuk bisnis money laundry baik bagi pelaku bisnis ataupun konsultan bisnis.

  1. Mencampurkan dana atau mixing laporan keuangan sebaik mungkin agar laporan bisa terlihat bersih sehingga dapat masuk ke rekening secara normal.
  2. Transaksi di bisnis food and beverage hampir di dominasi oleh pembelian scara cash dimana hal ini bisa di atur jumlah laporannya atau recipe yang di biarkan sulit di audit.
  3. Melakukan kerjasama dengan patner dalam modal bisnis, praktik ini cukup bisa membantu dalam membagi nilai uang di yang tanam dan di bagi dalam repot nantinya. 
  4. Memutar margin dari hasil manipulasi laporan menjadi aset yaitu properti atau lainnya adalah cara mempersiapkan diri. Prosedur penutupan perusahaan UMKM rugi sangat tidak serumit perusahaan pada umumnya sehingga mengumpulkan aset adalah tindakan tepat.
  5. Membangun brand menggunakan konsultan agar dapat di perluas modal dan omset menggunakan strategi waralaba atau franchise.

 

Dalam pandangan umum, karyawan berpikir pengusaha menikmati keuntungan dan pengusahaa berpikir pejabat dengan segala pajaknya yang menikmati keuntungan. Tapi bagaimana jika keutungan itu berputar hanya pada pengusaha yang memiliki jabatan dalam pemerintah ?

Dalam sebuah pernyataan pakar ekonomi, terkadang para pelaku pencucian uang atau para oknum pejabat yang memiliki dana yang cukup banyak menciptakan fenomena unfair competition dalam bisnis. Karena tujuan utamanya adalah mencuci uang, mereka tidak keberatan membakar uang (burn rate tinggi) untuk promosi agresif, menjual produk di bawah harga modal (predatory pricing), atau menyewa lokasi premium dengan harga di atas pasar. Dilema bagi para konsultan dan management patner, ketika menjalin kerjasama dengan investor seperti ini adalah paradoks yang unik. Dalam bisnis UMKM yang hampir kebanyakan masalahnya yaitu terhalang dengan finansial yang sangat terbatas. Hal tersebut membuat banyak strategi yang tepat jadi tidak maksimal sehingga membuat banyak bisnis UMKM sering gagal bertahan. Dalam kerjasama dengan bisnsi seperti ini, fokus utama adalah memaksimalkan branding agar laporan keuangan bisa di terima dengan logis sehingga uang kejahatan bisa di cuci.

Diskusi publik kini tidak lagi terbatas pada fenomena kedai kopi yang sepi namun tetap bertahan; perhatian mulai beralih pada menjamurnya brand waralaba (franchise) yang muncul secara masif lalu menghilang begitu saja. Fakta lapangan yang didukung oleh data para pengamat UMKM menunjukkan realitas yang pahit: mayoritas bisnis kuliner jarang mampu melewati 'masa kritis' dua tahun pertama. Kondisi ini memicu berbagai spekulasi negatif di tengah masyarakat. Mulai dari dugaan tempat pencucian uang karena anomali keramaian gerai, indikasi franchise scam akibat strategi jangka pendek yang hanya mengejar penjualan lisensi, hingga kecurigaan pada bisnis yang secara eksklusif hanya menerima transaksi tunai demi menghindari jejak audit non-tunai.

 

Investasi Mental: Rahasia 'Jatah Gagal 3 Kali' dalam Budaya Bisnis Tionghoa untuk membangun cara pikir positif dari banyaknya padangan negatif sebelumnya.

Saya ingin berbagi sedikit perspektif mengenai cara komunitas Tionghoa membangun bisnis serta menjaga mindset kewirausahaan dalam lingkaran mereka. Bagi mereka yang memulai dengan keterbatasan finansial, fokus utamanya adalah membangun koneksi strategis ke sumber pendanaan yang lebih besar. Namun, hal yang paling menarik bagi saya adalah sistem yang dibangun secara turun-temurun untuk menjaga mentalitas bisnis tersebut.

Ada sebuah prinsip yang sering terdengar: "Setiap keturunan diberikan kesempatan untuk mencoba membangun bisnis hingga tiga kali." Keluarga yang memiliki kemapanan finansial akan memastikan anak-cucu mereka mampu meneruskan estafet bisnis atau membangun unit usaha baru. Mereka memberikan pinjaman modal sebagai bentuk 'laboratorium praktik' langsung di lapangan. Orang tua yang meyakini pentingnya sebuah proses bahkan memberikan toleransi kegagalan hingga tiga kali pinjaman. Sistem ini menciptakan keseimbangan yang unik; beban tanggung jawab atas pinjaman tersebut memaksa mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang sangat agresif dalam menangkap peluang, namun tetap realistis dalam perhitungan.

Share:

Startegi Marketing dan Campaign "Temui saya"

 Nama campaign "Temui Saya" sangat kuat karena memiliki nuansa personal, romantis, misterius, sekaligus mengundang (inviting). Ini bukan sekadar ajakan makan, tapi ajakan untuk terkoneksi kembali. Di era digitalisasi yang begitu masif, semua orang sibuk dengan diri mereka sendiri dan bahkan terkurung dalam dunia baru yang di sebut sosial media. Para penggiat kesehatan mental melihat perkembangan teknologi ini dari sudut padang masalah yaitu ketika internel mulai muncul tingkat kesepian atau menyendiri masyarakat atau generasi saat ini semakin tinggi. Baik itu karena issue FOMO (Fear of Missing Out) dimana semua orang berusahaan mendapatkan validasi tapi beberapa yang lainnya memilih menjauh dan menutup diri sehingga beresiko pada hal terburuk. 


Inti dari campaign ini adalah merayakan pertemuan fisik di era digital. Restoran Anda bukan hanya menjual makanan, tetapi menjual ruang dan waktu untuk interaksi manusia yang nyata. Saya sedang mencari Brand dengan Visi yang sama, dimana hal itu akan tercermin dari nama brand serta proses bisnis anda. Tema ini sangat umum, namun perlu di pahami bahwa biaya dalam membangun branding tidaklah sama dengan sales. Saya memberikan sedikit informasi dan strategi disini, anda sangat berharga dengan inovasi dan kreatifitas anda maka bagi pembaca "formula nya utamanya masih ada di saya atau anda bisa kembangkan sendiri sehingga anda tahu seberapa berharga anda."

Filosofi Campaign

"Di dunia yang penuh dengan pesan teks dan video call, pertemuan tatap muka adalah kemewahan sejati. Temui saya, tatap mata saya, dan mari kita bicara."

3 Pilar Tema (Sub-Campaign):

Tiga pliar ini akan menjadi fokus pada semua kegiatan marketing nantinya dari konten yang di produksi, target team sales dan promosi dan media yang akan kita gunakan nantikan. 

1. The Reunion (Temui Saya untuk Cerita Lama)

  • Target: Teman lama, reuni sekolah, sahabat.

  • Narrative: Fokus pada nostalgia. "Kapan terakhir kali kita tertawa sampai lupa waktu?"

  • Visual: Foto polaroid di meja, gelas yang bersulang, tawa lepas.

2. The Intimacy (Temui Saya Tanpa Gawai)

  • Target: Pasangan (couple) atau keluarga inti.

  • Narrative: Fokus pada kehadiran utuh (mindfulness). "Letakkan HP-mu, temui saya sepenuhnya."

  • Visual: Tangan yang saling menggenggam di atas meja, eye contact, candle light.

3. The Deal (Temui Saya untuk Masa Depan)

  • Target: Profesional, meeting bisnis santai.

  • Narrative: Kesepakatan terbaik terjadi di meja makan, bukan di Zoom.

  • Visual: Jabat tangan, kopi, laptop yang tertutup (sudah deal).

 

II. Ide Promo & Aktivitas In-Store

Untuk mendukung tema "Temui Saya", promo harus mendorong interaksi dua orang atau lebih.

  1. Promo "Menulis info diri dan mengundang seseorang" (Papan undangan bertemu)

    • Tantangan: Seseorang akan menuliskan nama dan pembahasan yang ingin di bahas serta info khusus darinya dalam kertas dan menempelkannya ke papan udangan, mereka mendapatkan diskon 10% atau free dessert.

    • Tagline: "Temui Saya, Jangan Temui Layar HP-mu."

  2. Menu "Sharing is Caring"

    • Buat set menu khusus bernama "Paket Temui Saya". Porsinya didesain untuk sharing (tengah meja), bukan individual portion, untuk memaksa interaksi (saling mengambilkan lauk).

  3. Digital Invitation Card

    • Sediakan template Instagram Story atau kartu digital yang estetik di website/linktree resto. Serta membangun sistem komunitas di landing page dimana setiap orang bisa terhubung lalu mengadakan pertemuan di resto. Pelanggan bisa mengisi nama teman yang ingin diundang, lalu mengirimkannya.

    • Jika mereka menunjukkan bukti undangan digital itu ke pelayan, mereka dapat free appetizer.

 

III. Media Marketing & Sales Strategy

Agar campaign ini efektif, kita harus memadukan media yang "personal" (sesuai nama campaign) dengan media visual.

1. Social Media (Instagram & TikTok)

Ini adalah ujung tombak visual. Gunakan pendekatan POV (Point of View).

  • Konten Reels/TikTok:

    • POV: Kamera seolah-olah adalah mata seseorang yang sedang berjalan masuk ke resto, lalu melihat seseorang yang ditunggu melambaikan tangan dari meja. Caption: "Akhirnya, temui saya di sini."

    • Micro-Drama: Video pendek tanpa dialog, hanya musik, menunjukkan dua orang yang awalnya sibuk main HP, lalu saling menatap dan tersenyum.

  • User Generated Content (UGC): Ajak pelanggan posting foto orang yang mereka temui dengan hashtag #TemuiSayaDi[NamaResto].

2. WhatsApp Marketing (Personalized Invite)

Karena judulnya "Temui Saya", marketingnya harus terasa personal, bukan broadcast robot.

  • Strategi: Kirim pesan kepada database pelanggan setia dengan nada seperti surat pribadi.

  • Contoh Copy: "Hai [Nama Pelanggan], meja favoritmu di sudut sudah merindukan percakapan hangat. Minggu ini, siapa yang ingin kamu temui? Bawa mereka ke sini, kami siapkan hidangan penutup spesial untuk pertemuan kalian. - [Nama Resto]"

3. Kolaborasi Influencer (Key Opinion Leaders)

Jangan bayar influencer hanya untuk review makanan. Bayar mereka untuk menceritakan siapa yang mereka temui.

  • Brief: Minta influencer mengajak orang spesial (ibu, sahabat lama, atau pasangan). Kontennya bukan tentang "makanannya enak", tapi "terima kasih sudah mau menemui saya dan ngobrol panjang lebar di tempat yang nyaman ini."

4. Spotify Ads (Audio Experience)

Jika budget memungkinkan, audio sangat kuat untuk membangun mood.

  • Konsep Iklan: Suara riuh rendah restoran yang nyaman, bunyi gelas berdenting, dan suara tawa. Lalu voice over berbisik: "Kapan terakhir kali kamu mendengar tawanya secara langsung? Temui dia. Temui saya di [Nama Resto]."

 

Tahapan FunnelStrategi UtamaKegiatan SpesifikMedia Utama
AwarenessEdukasi & NarasiPosting data kesehatan mental & phubbingInstagram Reels & TikTok
ConsiderationInteraksi & VisualUndangan Digital & Spill Menu SharingInstagram Story & Influencer
ConversionPenawaran & InsentifPromo "Meja Tanpa Sinyal" & ReservasiWhatsApp & In-Store Signage
AdvocacyKenangan & LoyalitasFoto Polaroid & Voucher ReferalPhysical Card & UGC
Share:

Menaikan Omset 100 juta perbulan menjadi 500 juta perbulan bukan pekerjaan dukun/magic


Jangan di skip atau di lewatkan informasi di akhir artikel ini!
 
 
 
Membangun struktur bisnis yang berkelanjutan merupakan tantangan fundamental bagi setiap pebisnis/ owner. Keberhasilan sebuah bisnis sangat bergantung pada siapa yang memimpi bisnis itu dan sudah memiliki dua fungsi organisasi inti ini atau belum. Kedua hal itu adalah Pemasaran (Marketing/Sales) sebagai penggerak pendapatan atau yang mendatangkan uang, dan Keuangan sebagai sistem pertahanan yang menjaga, mengalokasikan dan memprediksikan karena data penting untuk mengambil kebijakan ada disini.

Pemasaran bukan sekadar aktivitas pendukung, melainkan jantung dari eksistensi bisnis. Peter Drucker, yang dikenal sebagai Bapak Manajemen Modern, menegaskan bahwa "Karena tujuan dari bisnis adalah menciptakan pelanggan, maka perusahaan bisnis hanya memiliki dua fungsi dasar: Pemasaran dan Inovasi. Pemasaran dan Inovasilah yang menghasilkan pendapatan; sisanya adalah biaya." Strategi pemasaran yang efektif memastikan adanya Customer Acquisition yang berkelanjutan untuk menjaga stabilitas arus kas masuk. Maka ketika sistem penawaran bagi seorang marketing atau sales akan sangat berbeda, kemampuan dan database juga akan memiliki nilai tawar yang berbeda. Jika struktur gaji tidak tepat maka yang terjadi anda salah memahami marketing dan juga fungsi sales.

Namun, pertumbuhan pendapatan (omzet) tanpa pengelolaan keuangan yang rigid atau terdata dengan baik adalah sebuah kerentanan. Kemampuan manajemen keuangan berfungsi sebagai sistem pengendalian internal untuk mencegah terjadinya efisiensi yang rendah atau "kebocoran" modal. Data dari CB Insights dalam laporan "The Top 12 Reasons Startups Fail" mengungkapkan bahwa sekitar 38% kegagalan bisnis disebabkan oleh kehabisan modal (ran out of cash/failed to raise new capital), yang seringkali berakar pada pengelolaan arus kas yang buruk meskipun produk mereka memiliki potensi pasar.

Bekerjasama dengan mitra bisnis, pemilik modal, klien atau business owner yang memiliki pemahaman mendalam mengenai biaya khususnya dalam konteks marketing budgeting, merupakan kebutuhan utama dalam keberhasilan eksekusi strategi. Literasi keuangan dalam pemasaran memungkinkan terjadinya strategic alignment (keselarasan strategis), di mana setiap alokasi dana dipandang sebagai instrumen pencapaian target spesifik yaitu omset. Namun, hambatan signifikan sering muncul ketika pengambil keputusan gagal mendiferensiasi antara pengeluaran untuk Sales/Performance Marketing anggaran di 40% (bersifat jangka pendek dan transaksional) dengan investasi pada Brand Equity anggaran di 60% (pembangunan nilai jangka panjang) penting untuk memperhatikan kondisinya.

Tantangan ini menjadi jauh lebih kompleks bagi entitas bisnis yang belum memiliki penetrasi pasar atau kesadaran merek (brand awareness) yang kuat. Meskipun strategi pertumbuhan organik merupakan pendekatan yang minim risiko secara finansial, metode ini seringkali tidak efisien secara temporal; pertumbuhan yang lambat di tengah biaya operasional (fixed costs) yang terus berjalan dapat menggerus margin keuntungan secara perlahan. Dalam kondisi kompetisi yang ketat, strategi Blitzscaling atau penetrasi pasar yang agresif yang seringkali di sebut konsep bakar uang menjadi pilihan rasional. Strategi ini melibatkan alokasi modal yang masif atau yang sering diistilahkan dengan burn rate strategy untuk mengakuisisi pangsa pasar secara cepat melalui berbagai instrumen pemasaran digital dan promosi intensif. Tujuannya adalah mencapai economies of scale sebelum sumber daya operasional habis terkonsumsi oleh waktu. Dalam era saat ini, kita biasa menemukannya pada brand brand start up seperti Go jek dan brand lain yang mulai dari skala kecil ingin menjadi besar melalui pasar modal atau dukung investor dalam kasus franchise atau waralaba.

Setelah pembahasan di atas saya akan memberikan contoh Brand yang perna di handle sebelumnya.

Business owner dari CV. Pajera Media Sejahtera merekrut brand manager untuk mewakili brand Ayam Panggang Mbah Mo. CV. Pajera Media Sejahtera memiliki banyak unit bisnis yang di bawahi oleh holding company miliknya. Dalam kasus ini, mereka punya unit bisnis kuliner yang belum maksimal di luar dari holding secara langsung dan penjualannya selama 3 tahun berdiri hanya rata rata omset 100+ juta perbulan. Tindakan yang CV. Pajera Media Sejahtera sudah lakukan adalah di handle dengan startegi marketing pada umumnya melalui team marketing dari unit bisnis sendiri berupa agensi digital marketing. Metode selama 3 tahun juga sangat maksimal, mereka melakukan perawatan pada sosisal media dan juga sampai mengundang influencer yang merupakan artis besar ibu kota Benu pada tahun 2019. Kumpulan data lainnya adalah lokasi strategis karena dekat dengan brand yang viral yaitu Kopi Klothok, bangunan yang luas, lokasi pariwisata, produk unik dan belum perna viral.

Dalam manajemen strategi, mengalokasikan anggaran untuk membangun fondasi brand yang solid sejak awal dengan strategi yang tepat jauh lebih efisien secara finansial dibandingkan melakukan 'operasi plastik' pada brand yang sudah memiliki citra buruk. Hal ini didukung oleh fenomena Service Recovery Paradox (melalui Investopedia), di mana biaya untuk memenangkan kembali kepercayaan konsumen seringkali melonjak drastis karena adanya resistensi psikologis.

Secara ilmiah, hal ini berkaitan dengan Confirmation Bias (seperti yang dijelaskan dalam Britannica); sekali publik memiliki persepsi negatif, mereka akan cenderung mengabaikan upaya perbaikan Anda. Sebagaimana dicatat dalam studi klasik Harvard Business Review mengenai The High Cost of Lost Trust, investasi pada brand awareness yang sehat sejak dini adalah aset jangka panjang, sedangkan biaya pemulihan reputasi hanyalah beban (expense) besar yang seharusnya bisa dimitigasi melalui perencanaan strategi yang presisi."

Dalam kasus ini, kita melihat anggaran yang besar di alokasikan pada strategi atau cara yang tidak tepat maka tidak akan mencapai target yang di harapkan. Dari kepercayaan magic yang terjadi di Indonesia, hal yang cukup menjadi tantangan saat menghandle brand ini adalah ketika seorang business owner percaya bahwa tempatnya sepi mungkin karena ada sihir. Suatu magic yang menutupi restorannya sehingga orang orang tidak melihat dan tidak mampir ketempatnya tapi tidak mempertimbangkan layout dan design yang salah.

Dengan menyelaraskan data yang masuk dan target market yang di bentuk sebelumnya, maka dalam proses sebelum bergabung dengan perusahaan kita menyepakati dulu hal terpenting yaitu anggaran dan strategi yang akan di lakukan. Perluh di pahami bersama, bahwa setiap tools atau media marketing itu banyak serta sangat umum untuk di gunakan. Sedangkan setiap tools ada biaya yang harus di keluarkan, namun yang mahal dari semua itu adalah proses dan strategi penggunaan tools tersebut.

Dari pengalaman sebelumnya menghandel brand ini dengan teamnya, owner CV. Pajera Media Sejahtera sangat paham biaya yang digunakan sehingga pengajuan anggaran yang sangat besar kali ini owner lebih fokus strategi yang dilakukan. Ketika membaca anggaran yang di ajukan owner memahami tools yang terdapat dalam RAB tidak berjauh beda tapi diskusi kali ini dilakukan fokus pada strategi dan penganggaran biayanya dalam setiap tools serta tahapan yang dilakukan.

Saya akan berbagi strategi dalam menaikan omset 100 juta perbulan menjadi 500 juta perbulan lalu menjadi brand waralaba.

Berdasarkan evaluasi mendalam, ditemukan adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara profil target pasar sebelumnya dengan atribut fisik aset perusahaan sebelumnya.

Komponen  Deskripsi Strategis
StrengthsKapasitas infrastruktur besar (300 pax), lokasi strategis di jalur pariwisata, dan kedekatan geografis dengan brand yang sudah viral.
WeaknessesBrand equity yang masih rendah, jarak tempuh yang jauh dari pusat kota (menghambat segmen keluarga lokal), dan keterbatasan variasi produk (khususnya lini kopi/barista) untuk target mahasiswa, design dan layout resto yang tertutup.
OpportunitiesPenetrasi ke pasar B2B Tourism, pengembangan lini unit bisnis oleh-oleh, dan pemanfaatan momentum kunjungan wisata regional.
ThreatsFluktuasi pendapatan harian (daily revenue) dan ketergantungan pada tren musiman pariwisata.

 

Dari analisis tersebut maka ada beberapa tahapan yang di lakukan yang bisa saya bagi :

Stage 1 : Persiapan dalam mengganti segmen pasar

beberapa hal yang di lakukan adalah riset value brand untuk konten, menaikan beberapa value dalam konten dengan ads dan mengavaluasi value tersebut, membangun menu baru untuk segmen pariwisata, bekerjasama dengan freelance sales dan ikut komunitas untuk mengumpulkan database dan promo branding secara offline pada agensi tour, pemerintah dan perusahaan. Setelah ada beberapa reservasi dan pelanggan yang datang maka mengumpulkan bank konten dari pelanggan yang datang dengan angel yang beragam.

Stage 2 : Menguji media pemasaran dan form evaluasi

beberapa hal yang dilakukan adalah membangun sistem evaluasi marketing dengan form quisioner di kasir dan laporan digital marketing. Menaikan konten value yang dipilih dengan ads meta, memasang ronteg di jalan dan cashback pada database sales. Lalu semua itu di evaluasi oleh laporan harian dan mingguan oleh kasir dan digital marketing.

Stage 3 : Blitzscaling atau burn rate strategy (bakar uang)

beberapa hal yang dilakukan setelah mulai ramai penjualan melalui tour & travel dan lainnya maka menaikan branding melalui influencer. Kegiatan ini dilakukan di awal bulan dan akhir bulan dengan mengincar 2 moment penting yaitu moment wisuda dengan paket wisudanya dan branding tanpa promo dengan moment natarunya.

Stage 4 : Costumer relationship dan pengembangan

Beberapa hal yang dilakukan adalah memperbaiki layout terkait issue selama ini ramai karena ada black magic sehingga tidak ada yang datang. Membangun kerjasama dengan umkm lain untuk oleh oleh, membuat paket besek dan pelayanannya, memperbanyak agenda branding image di maps dan sosmed.

Dengan support team dan juga finansial yang baik, beberapa pencapai yang di buat dalam program 3 bulan menghandle brand Ayam Panggang Mbah Mo, yaitu :

1. Meningkatkan trend online di Sosial Media atau pun Google Maps dengan membangun follower dari 3K+ naik 2 kali lipat dan membangun trend pada Gmaps sampai rate bintang 4.8 dengan ribuan komentar positif di sosmed atau pun gmaps.

2.  Omset selama 3 tahun belakangan di rata-rata 100+ juta perbulan menjadi 600+ juta perbulan.

3. Dalam kondisi viral ini, kolega dan calon investor masuk menghubungi menjadi dapat base untuk program serta target baru yaitu bisnis waralaba franchise. 

Beberapa hal yang perlu di pahami dan sepakati ketika membaca artikel ini adalah :

1. Dari formula yang saya share dan hasil dari pencampaiannya saat itu, perlu saya sampaikan bahwa tools atau media marketing daftarnya selalu sama. Hal yang membedakan dan membuat tools itu berguna dengan baik adalah kemampuan manager anda atau pengalaman anda untuk tahu kapan, apa dan berapa jumlah rupiah yang harus dikelurkan.

2. Formula marketing ini dilakukan di tahun 2022 sampai saat ini beberapa brand yang perna interview dan konsultasi dengan saya mencoba menerapkan beberapa tools. Tools yang di gunakan kadang salah satu atau semuanya dan hasilnya selalu beragam yang memberikan data bahwa semua itu tergantung yang menggunakan tools dan rupiah yang dikeluarkan.

3. Agenda marketing biasanya dilakukan lebih banyak secara intuisi dari proses pengalaman. Seperti kata Gary Klein dalam bukunya "Sources of Power: How People Make Decisions", ia menjelaskan bahwa para ahli (termasuk marketer berpengalaman) tidak membandingkan semua opsi secara analitis, melainkan menggunakan intuisi untuk mengenali pola.

4. Sebagai pebisnis atau atasan, anda harus dapat belajar dua kemampuan seperti diatas yaitu marketing atau sales dan juga keuangan. Ketika anda memutuskan menggunakan atau menghire orang lain untuk melakukan kedua hal itu maka siapkan diri anda untuk bertanggungjawab atas setiap keputusan anda.

Share:

Popular Posts

Saya Jopri Satriadi

Lahir pada 1992 di salah satu kota kecil Palembang, tepatnya di kota Prabumulih, Sumatera Selatan, Indonesia.

Banyak sekali kesibukan selama saya memutuskan untuk kuliah di tahun 2014 silam. Saya aktif dalam Organisasi yang bergerak dibidang Jurnalistik dengan diamanatkan menjadi Bendahara Umum selama 2 periode kepemimpinan.

Tidak berhenti disitu, setelah cuti kuliah di tahun 2015, saya menyibukan diri dengan banyak pekerjaan, dari menjadi cleaning servis di Celebritis Fitnes yogyakarta dengan berkat pengalaman saya bekerja menjadi OB di RS. AR Bunda Prabumulih selama tiga tahun sebelum saya berangkat ke Jogja. Tidak lama gabung di celfit, kurang lebih lima bulan, saya mendapatkan panggilan pekerjaan di RAMA Billiard atau Hanggar Billiard sebagai Tabel Guard.


Cukup lama bergabung dengan RAMA Billiard, saya mendapatkan panggilan pekerja di Bilik Kayu Heritage Resto pada bulan Oktober 2016 hingga Mei 2018 di DIVISI SERVIS.

catatan ini akan semakin panjang.
maka untuk menghidari itu saya akan memposting beberapa kegiatan saya di beranda agar terlihat lebih rapi.


Anda masih kurang mengenal saya ? serta masih belum tahu kegiatan saya?

Gunakanlah Kolom-kolom yang ada di Beranda agar dapat terhubung kesemua Akun-akun Media Sosial saya.

Mari menjadi Patner kerja, Bisnis, atau bahkan cinta dengan dimulai dari saling mengenal.